Monday, December 16, 2019

Level of (Service) Product?

Dalam Postingan sebelumnya, terdapat tingkatan produk yang berupa barang. Disini, saya akan menjabarkan tentang 'Bagimana jika level of product di implementasikan kedalam produk jasa?'

Dalam tingkatan produk jasa sendiri, tingkatan tentu saja dapat diimplementasikan, namun perbedaannya, customer dapat mendapatkan hasil dari permintaan di tahapan augmented, dimana aftersales dengan sendiri nya menjadi sebuah during sales dimana kepuasan dari tamu akan dirasakan saat itu tanpa mendapatkan pelayanan setelahnya.

Contoh yang dapat saya berikan adalah saat di hotel.

1.Core product
Dalam hal ini adalah permintaan atau keinginan tamu untuk berlibur atau sekedar mencari tempat untuk tinggal senyaman mungkin saat bekerja (business trip).

2. Actual Product
Disini tamu akan mencari hotel yang sesuai dengan budget dan keinginan. Mostly, hal pertama yang dicari adalah berdasarkan Brand. Ketika tamu terbiasa menginap di brand A di saat mereka berpergian, tentunya setidaknya tamu akan memilih untuk mencari brand hotel yang sama atau setidaknya mencari hotel dibawah management yang sama dengan brand tersebut.

3. Augmented
Ketika tamu sudah memilih di satu hotel, mereka hanya akan dapat merasakan service yang diberikan pada saat check in. Layanan customer service atau sebagainya dilayani pada saat tamu tinggal di kamar hotel tersebut, dan pelayanan dan pertanyaan tingkat kepuasan akan dilakukan pada saat check out. Ketika tamu telah pergi dari hotel tersebut, tamu tidak akan lagi merasakan pelayanan yang diberikan oleh hotel hingga waktu dimana ia akan menginap lagi di hotel tersebut.

Dari sini dapat disimpulkan, karena jasa merupakan hal yang tidak dapat di lihat namun dirasakan dan meninggalkan suatu pengalaman yang membekas, jasa hanya dinikmati di saat yang bersamaan. Produk jassa sendiri dasarnya adalah menggunakan manusia sebagai sumber daya atau produk utamanya. Dan tidak dapat di pungkiri bahwa jasa memiliki hasil yang berbeda-beda.

Level of a Product - Why?

3 Levels of a Product antara lain adalah:



1. Core Product
Bisa dikatakan sebagai nilai atau manfaat dari suatu produk. Dalam tahap ini, produk tersebut belum menjadi sebuah barang yang nyata. Melainkan sebuah gambaran dan ide dari permintaan konsumen akan suatu produk yang bermanfaat untuk mereka.

2. Actual Product
Dalam tahap ini, ide yang di kembangkan sudah menjadi sebuah produk yang nyata, di tahap ini pula pengembangan kualitas, brand, mode, jenis, bahkan warna sudah tercipta. Disini pula proses dimana customer dapat melihat, tertarik, mencoba dan akhirnya membeli produk yang sekiranya sudah sesuai dengan permintaan yang di inginkan.

3. Augmented Product
Merupakan tahapan yang sering disebut AFtercare / Aftersales. Dimana kita sebagai penyedia product memberikan pelayanan lanjutan terhadap customer atas kepuasan atau permasalahan yang di dapat saat menggunakan produk tersebut.

Dan dapat di simpulkan mengapa sebuah produk memiliki 3 tahapan ini: Hal ini dikarenakan dalam membuat sebuah produk, sebuah perusahaan harus melihat potensi akan permintaan dan juga nilai bahkan manfaat yang diinginkan oleh pasar/market. Ketika permintaan akan suatu produk tinggi, kita dapat menciptakan inovasi dari produk tersebut secara berkala dan penjaminan akan meningkatnya penjualan barang tersebut juga akan menjadi tinggi.

References:
https://www.marketingteacher.com/three-levels-of-a-product/
https://marketing-insider.eu/three-levels-of-product/





























Inseparability @ Service Characteristic

Inseparability diartikan dengan produk jasa hanya dapat dikonsumsi dan diproduksi di saat yang sama. Hal ini dikarenakan produk jasa merupakan hal yang dilakukan oleh manusia, ketika mereka menyajikan jasa, tamu tidak dapat merasakan jasa itu di lain waktu ketika penyedia jasa sudah tidak berada di depan tamu tersebut.

Upaya yang dapat di lakukan oleh hotel dalam mengatasi karakteristik service ini, antara lain dengan:
1. Menjaga kualitas service yang di lakukan.
2. Memberikan pelayanan jasa setara antara tamu satu dengan yang lainnya.
3. Melakukan staff training maupun LQA secara berkala.

Sunday, December 15, 2019

Variability @ Service Characteristic

Variability dalam hal ini diartikan sebagai sesuatu yang tidak tetap. Service merupakan sesuatu yang sifatnya tidak tetap, bergantung pada siapa yang memberikan service tersebut.

Jika A melakukan service yang sangat baik dan memuaskan tamu, belum tentu B dapat melakukan hal yang sama. Hal ini dikarenakan Service merupakan hal yang dilakukan oleh manusia, yang tentunya tidak memiliki kemampuan yang sama.

Dalam hal ini, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan kestabilan jasa yang diberikan adalah melakukan training setidaknya satu kali dalam sebulan. Hal ini dapat dilakukan guna memastikan standdar yang di ciptakan hotel masih bisa dilakukan oleh staff nya dengan baik.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah proses screening yang diperketat pada saat melakukan recruitment. Hal ini dapat di bilang sebagai pencegahan dalam kualitas service dalam hotel yang nantinya akan menyebabkan penurunan yang berarti.

Perishability @ Service Characteristic

Perishability dalam perhotelan dapat di umpamakan dengan total occupancy yang tidak terjual pada hari tersebut. Jika dalam karakteristik barang, jika tidak terjual hari ini dapat dijual lagi keesokkan harinya, maka dalam jasa, ketika sebuah kamar tidak dapat dijual di hari ini, maka kamar tersebut akan menjadi kerugian di hari itu karena dalam hotel, kamar yang tidak terjual pada satu hari, menjadi beban untuk kamar yang terjual.

Dalam mengatasi hal ini dapat dilakukan upaya dalam memaksimalkan pendapatan dalam hotel, seperti:

1. Menciptakan Dynamic Price.
Dynamic price merupakan strategi penerapan harga yang dilakukan berdasarkan perubahan permintaan dan penawaran. dapat di artikan, di saat low season hotel dapat menerapkan harga yang rendah demi meningkatkan occupancy, begitu juga sebaliknya, ketika high season hotel dapat menerapkan harga yang tinggi mengingat permintaan dari tamu pun sangat meningkat pesat dan tingkat full occupancy dapat dipastikan tinggi.

2. Menciptakan promosi
Promosi yang dilakukan di saat low seasonn, sedikit banyak dapat membantu meningkatkan revenue yang di dapatkan. Seperti staycation at weekend, dsb. Promosi penjualan kamar pun dapat dilakukan ke Corporate yang sudah memiliki MOU dengan hotel tersebut, sehingga memunculkan possibility untuk penjualan kamar dalam jumlah banyak di saat itu.

3. Social Media
Seperti yang kita ketahui, saat ini cara yang palig efektif dalam mempromosikan sesuatu adalah dengan mempostingnya di media sosial. Dengan adanya media sosial dan promosinya, banyak masyarakat yang akhirnya mengetahui apa saja yang sedang in dan promosi yang menarik perhatian banyak. Dalam hal ini, hotel yang melakukan promosi dalam penjualan kamar maupun pax F&B dapat meningkatkan jumlah tamu dengan promosi menarik yang dilakukannya.

references:
https://dailyhotels.id/2017/10/berikut-ini-manfaat-dan-langkah-penerapan-dynamic-rate/

Intangibility @ Service Characteristic

Sama dengan artinya, Intangibility berarti tidak berwujud. Service memberikan suatu kepuasan emosional kepada tamu untuk dirasakan dan menjadi suatu pengalaman yang berarti untuk tamu.

Pada saat kita membeli barang, tentunya kita bisa melihat jelas bentuk dan kondisi barang tersebut, bahkan kita bisa mencoba barang tersebut sebelum membelinya. Lain hal nya dengan jasa, Most services cannot be experienced or consumed until the purchase is made. Ketika kesepakatan sudah dilakukan oleh tamu dan pihak hotel, tamu baru dapat menikmati service atau jasa yang di sediakan.